SMA NEGERI 1 ROWOSARI

KEKERASAN PADA ANAK

Posted on: November 22, 2007

Hasil penelitian Unicef di Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara pada 2006 yang menunjukkan bahwa kekerasan terhadap anak sebagian besar (80 persen) dilakukan oleh guru, layak menjadi perhatian kita. Hasil pemenitian itu memberikan kesadaran bahwa kekerasan bisa terjadi di mana saja, termasuk di lingkungan sekolah, tempat yang selama ini dipercaya paling aman dan terbaik untuk anak.

Selain itu, hasil penelitian tersebut memberikan kesadaran pada kita bahwa kekerasan pada anak tidak hanya berupa kekerasan fisik. Namun, bisa berupa kekerasan nonfisik, seperti pemberian tugas berlebihan, memberikan target prestasi terlalu tinggi, hingga memaksa anak melakukan sesuatu di luar minatnya.

Perlu disadari, kekerasan seperti itu, terkadang -bahkan sering- tidak disertai niat jahat. Sebaliknya, tindakan itu malah berselimut niat baik. Karena itu, pada umumnya mereka yang melakukan kekerasan pada anak sama sekali tidak merasa bersalah. Mereka merasa bahwa dirinya telah berbuat kebaikan. Telah memberikan yang terbaik kepada anak.

Karena itu, pengertian atau definisi tentang kekerasan kepada anak yang meliputi aspek fisik dan nonfisik perlu dimengerti oleh mereka yang memiliki tugas mendidik anak -baik guru maupun orang tua. Anak harus dilihat sebagai individu mandiri, yang berbeda dengan orang tua atau gurunya. Anak memiliki bakat, kemampuan, minat, kebiasaan yang berbeda. Mereka bukanlah makhluk kecil yang merupakan jelmaan guru atau orang tuanya.

Memang, tidak mudah untuk bisa memiliki pemahaman seperti itu. Guru maupun orang tua sering memiliki sejumlah ambisi pribadi yang dibebankan di pundak anak. Mereka selalu berdalih demi masa depan anak. Mereka menganggap anak sebagai benda mati yang masa depannya harus ditentukan guru atau orang tua.

Khusus untuk guru, mereka terkadang juga dipaksa oleh keadaan. Yakni, adanya sistem pendidikan yang tidak mengacu kepada kepentingan anak. Tapi, lebih mengacu kepada kepentingan industri, kepentingan kapitalis maupun kepentingan penguasa. Anak dipaksa memiliki kualifikasi tertentu demi mengejar standardisasi yang ditetapkan penguasa, dunia industri, atau para kaum kapitalis.

Padahal, hakikat pendidikan semestinya bukan itu. Pendidikan seharusnya lebih diarahkan untuk mengembangkan potensi yang ada pada diri anak. Anak harus diarahkan menjadi dirinya sendiri. Dengan demikian, ketika dewasa, anak bisa hidup dari dirinya sendiri. Bukan hidup karena menjadi kuli orang lain atau menjadi budak kaum pemilik modal.

Bila berbicara sistem pendidikan yang diterapkan di Indonesia saat ini, betapa ciri-ciri eksploitasi kepada anak itu begitu jelas. Anak yang punya karakteristik berbeda-beda dipaksa memiliki kemampuan sama. Lewat ujian nasional (unas), mereka dipaksa memiliki kepampuan yang memadai dalam beberapa mata pelajaran. Padahal, tidak semua anak memiliki kemampuan baik di bidang itu -tahun lalu, matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.

Anak yang memiliki bakat luar biasa di bidang seni, olahraga, atau bidang lain, tapi lemah di ketiga mata pelajaran tadi bisa divonis menjadi anak bodoh. Anak tersebut akan divonis tidak lulus, sehingga kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih tinggi menjadi hilang. Kasus ini sudah banyak terjadi. Karena itu, sudah saatnya kita mengevaluasi diri. (Sumber : Jawa Pos Rabu 21 Nov 2007)

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Saat ini Weblog sedang dicermat oleh … orang

web stats

Renungan

Demi matahari dan Sinarnya di Pagi hari, Demi Bulan Apabila Ia Mengiringi, Demi Siang Hari bila menampakkkan dirinya, demi malam apabila ia menutupi. Demi Langit beserta seluruh binaannya, demi bumi serta yang ada di hamparannya, demi Jiwa dan Seluruh Penyempurnaannya. Allah mengilhamkan sukma kefasikan dan ketaqwaan, beruntung bagi yang mensucikannya, merugi bagi yang mengotorinya
November 2007
M S S R K J S
« Okt   Des »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Blog Stats

  • 23,465 hits
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: